Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar pengumpulan informasi atau pencapaian gelar akademik, melainkan sebuah cahaya yang harus menuntun pada perubahan perilaku. Namun, di era digital saat ini, akses informasi yang begitu mudah sering kali membuat seseorang merasa sudah cukup berilmu sehingga melupakan adab dalam belajar. Padahal, para ulama terdahulu mengajarkan bahwa adab harus dipelajari jauh sebelum seseorang mendalami suatu cabang ilmu, agar ilmu yang diperoleh tidak menjadikannya sombong melainkan semakin rendah hati.
Salah satu pilar utama dalam keberkahan ilmu adalah penghormatan terhadap guru atau pendidik. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan pembimbing spiritual yang membantu membentuk pola pikir dan karakter muridnya. Sikap tawaduk, mendengarkan dengan seksama, serta menjaga kehormatan guru adalah kunci agar ilmu yang diserap menjadi bermanfaat dan melekat dalam jiwa. Tanpa adanya adab terhadap guru, ilmu mungkin bisa dikuasai secara logika, namun akan kehilangan ruh dan keberkahannya.
Menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, fokus, dan niat yang tulus. Penting bagi setiap penuntut ilmu untuk menyaring sumber informasi dan berguru pada orang-orang yang memiliki sanad keilmuan serta integritas moral yang jelas. Dengan mengedepankan adab di atas kepintaran intelektual, ilmu yang diperoleh akan menjadi sarana untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal saleh dan akhlak mulia.
Fahmi Fachruddin/Magang






